Jumat, 05 Oktober 2012

TINGKATAN PENCEGAHAN PENYAKIT


BAB 2
KONSEP DAN TINGKAT PENCEGAHAN PENYAKIT (LEVEL OF PREVENTION)
Konsep tingkat pencegahan penyakit ialah mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum kejadian dengan menggunakan langkahlangkah yang didasarkan pada data/ keterangan bersumber hasil analisis/ pengamatan/ penelitian epidemiologi.
2.1 Tingkatan pencegahan penyakit
a.    Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) seperti promosi kesehatan dan pencegahan khusus. Sasarannya ialah faktor penyebab, lingkungan & pejamu. Langkah pencegahaan di faktor penyebab misalnya, menurunkan pengaruh serendah mungkin (desinfeksi, pasteurisasi, strerilisasi, penyemprotan insektisida) agar memutus rantai penularan. Langkah pencegahan di faktor lingkungan misalnya, perbaikan lingkungan fisik agar air, sanitasi lingkungan & perumahan menjadi bersih. Langkah pencegahan di faktor pejamu misalnya perbaikan status gizi, status kesehatan, pemberian imunisasi.
Tujuan pencegahan primer adalah mencegah awitan suatu penyakit atau cedera selama masa prapatogenesis (sebelum proses suatu penyakit dimulai). Contoh pencegahan primer antara lain, progam pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan, proyek rumah aman dan pengembangan personalitas dan pembentukan karakter.
Sayangnya penyakit atau cedera tidak dapat selalu dicegah.penyakit kronis khususnya,terkadang menyebabkan disabilitas (ketidakmampuan) yang cukup parah sebelum akhirnya terdektesi dan akhirnya diobati.dalam hal ini, intervensi segera mencegah kematian atau membatasi disabilitas.
b.    Pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) seperti diagnosis dini serta pengobatan tepat. Sasarannya ialah pada penderita / seseorang yang dianggap menderita (suspect) & terancam menderita. Tujuannya adalah untuk diagnosis dini & pengobatan tepat (mencegah meluasnya penyakit/ timbulnya wabah & proses penyakit lebih lanjut/ akibat samping & komplikasi). Beberapa usaha pencegahannya ialah seperti pencarian penderita, pemberian chemoprophylaxis (Prepatogenesis / patogenesis penyakit tertentu).
Tindakan pencegahan skunder yang paling penting adalah skrining kesehatan. Tujuannya bukan untuk mencegah terjadinya penyakit tetapi lebih untuk mendeteksi keberadaanya selama masa pathogenesis awal, sehingga intervensi(pengobatan) dini dan pembatasan disabilitas sudah dapat dilakukan. Tujuan skrining kesehatan juga bukan untuk mendiagnosis penyakit, tujuannya adalah memilah secara ekonomi dan efisien mereka yang kemungkinan sehat dari mereka yang kemungkinan positif terjangkit penyakit.
c.    Pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) seperti pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi. Sasarannya adalah penderita penyakit tertentu. Tujuannya ialah mencegah jangan sampai mengalami cacat & bertambah parahnya penyakit juga kematian dan rehabilitasi (pengembalian kondisi fisik/ medis, mental/ psikologis & sosial, serta melatih kembali,mendidik kembali, dan merehabilitasi pasien yang mengalami disabilitas permanen. tindakan pencegahan tersier mencakup tindakan yang diterapkan setelah berlangsungnya masa patogenesis. terapi untuk pasien jantung merupakan contoh pencegahan tersier.






<!--more--!>


<!--more--!>
2.2 Pencegahan Penyakit Menular
            2.2.1 Pencegahan Primer Penyakit Menular
            Langkah-langkah pencegahan primer penyakit menular dapat digambarkan dalan menggunakan mata rantai infeksi seperti yang digambarkan diatas. Dalam model ini, startegi pencegahan tampak dalam masing masing sambungan pada rantai pelaksanaan yang sukses dari setiap strategi dapat dipandang sebagai kelemahan suatu sambungan,dengan tujuan akhir memutus mata rantai infeksi, atau mengganggu siklus pencegahan penyebaran penyakit. Contoh tindakan masyarakat antara lain klorinasi persediaan air, pemeriksaan restaurant dan pasar bahan makanan eceran,dan progam imunisasi yang mencakup semua penduduk.kedalamnya juga ditambahkan upaya personal dalam pencegahan primer, misalnya cuci tangan, dan pemasakan makanan dengan benar.
2.2.2 Pencegahan Sekunder Penyakit Menular
            Upaya pencegahan skunder yang dilaksanakan oleh masyarakat terhadap penyakit menular biasanya ditunjukan untik mengendalikan atau membatasi penyebaran suatu epidemi. Contohnya pemeliharaan secara cermat catatan kasus dan melakukan investigasi kasus.
            Terkadang upaya pengendalian skunder penyakit ini dapat mengakibatkan isolasi dan karantina. Isolasi adalah pemisahan (selama masa penularan)orang atau binatang yang terjangkit dari yang lainya untuk mencegah baik secara langsung ataupun tidak lansuns penyebaran agens menular pada orang yang renta. Karantina adalah pembatasan kebebasan bergeraak dari orang atau binatang sehat yang terpajan penyakit menular sampai masa inkubasi berlalu. Upaya pengendalian lebih lanjut adalah desinfeksi, pembunuhan agens menular diluar tubuh pejamu,dan pengobatan masal dengan antibiotik.terakhir program pendidikan kesehatan masyarakat dan promosi kesehatan harus digunakan sebagai upaya pencegahan primer maupun skunder.
2.2.3 Pencegahan Tersier Penyakit Menular
            Upaya pencegahan tersier mencakup upaya pemulihan infeksi, penyembuhan sampai sehat total, dan kembali menjalankan aktifitas normal. Ditingkat komunitas, upaya pencegahan tersier ditujukan untuk pencegahan kekembuhan suatu penyakit epidemic. Pemusnahan yang tepat, pembalseman, dan pemakaman yang meninggal merupakan contohnya. Pencegahan tersier dapat melibatkan pelaksanaan kembali upaya pencegahan primer dan sekunder sebagai cara untuk mencegah munculnya kasus lain. Contohnya, dibeberapa negara, misalnya, republic korea, penderita selesma atau flu mengenakan masker tipis di tempat umum untuk mengurangi penyebaran penyakit.
2.3 Pelaksanaan Upaya Pencegahan dalam Pengendalian Penyakit Menular: AIDS
            Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah penyakit progresif yang disebabkan oleh infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Seseorang dapat terjangkit penyakit ini jika berkontak dengan virus melalui aktivitas seksual, penggunaan obat intravena, atau terpajan darah.         Reservoir virus HIV adalah populasi manusia yang terinfeksi, HIV biasanya meninggalkan pejamu yang terinfeksi (reservoir) selama aktivitas seksual. Portal of exit-nya adalah saluran urogenital. Penularan secara langsung dan terjadi saat cairan reproduksi atau darah bertukar dengan cairan dan darah pejamu yang rentan. Namun, berkaitan dengan kasus penggunaan jarum suntik, penularan terjadi secara tidak langsungmelalui jarum (media) yang terkontaminasi.
            Pemerikasaan cermat terhadap mata rantai infeksi mengungkap bahwa upaya pencegahan dan pengendalian dapat diidenfikasi pada setiap sambungan. Pathogen pada pejamu berpenyakit dapat ditahan perkembangannya dengan menggunakan obat yang tepat. Diluar tubuh pejamu, uapaya sterilisasi jarum dan media lain yang memungkinkan serta desinfeksi permukiman dapat membunuh virus dan mengurangi kemungkinan penularan melalui kontaminasi. Potal of exit (dan entry) dapat dilindungi dengan menggunakan kondom. Penularan dapat dihentikan dengan tidak melakukan aktivitas seks atau dengan menguranginya.
2.4 Pencegahan Penyakit Tidak Menular
            Baik individu maupun masyarakat dapat memberikan kontribusi bermakna dalam pencegahan dan penedalian penyakit berpenyebab ganda. Masyarakat dapat menyediakan lingkungan yang pro-kesehatan-fisik, ekonomi, dan sosial yang di dalamnya setiap orang akan lebih mudah mencapai derajat kesehatan yang lebih tinggi.
2.4.1 Pencegahan Primer Penyakit Tidak Menular
            Upaya pencegahan primer untuk penyakit tidak menular mencakup persediaan makanan dan energy yang adequate, kesempatan yang baik dalam pendidikan, pekerjaan, dan perumahan dan layanan komunitas yang efisien. Selain dasar-dasar tersebut, komunitas harus menyediakan program promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan, layanan kesehatan dan medis, dan perlindungan terhadap bahaya lingkungan pekerjaan.
            Setiap individu dapat mempraktikan upaya pencegahan primer dengan mendapatkan tingkat pendidikan yang tinggi yang mencakup pengetahuan tentang kesehatandan penyakit dan perjalanan penyakit anggota keluarga lain. Secara khusus, individu harus mengambiltanggung jawab dalam hal makan dengan tepat, olahraga yang cukup, mempertahankan berat badan yang sesuai , dan menghindari penggunaan berlebih berakohol dan obat-obatan lain. Masing-masing individu juga dapat melindungi dirinya dari cedera dengan mengenakan sabuk pengaman, kacamata pengaman, dan lotion tabir surya.
2.4.2 Pencegahan Sekunder Penyakit Tidak Menular
            Upaya pencegahan sekunder yang dapat dilakukan masyarakat mencakup pelaksanaan skrining massal untuk penyakit kronis, upaya penemuan kasus, dan penyediaan tentang fasilitas, perlengkapan, dan tenaga kesehatan yang memadai bagi masyarakat. Tugas individu di dalam pencegahan sekunder mencakup skrining pribadi, misalnya periksa sendiri payudara atau testis (untuk kanker pada organ tersebut), bemocult test (untuk kanker kolon dan rektum), dan skrining medis seperti pap test (untuk kanker servik), tes PSA untuk kanker prostat, mammografi dan skrining untuk diabetes, glukoma, atau hipertensi. Keikutsertaan dalam skrining kesehatan dan pemeriksaan kesehatan dan gigi secara rutin merupakan langkah awal dalam pencegahan sekunder untuk penyakit tidak menular. Langkah-langkah itu harus diikuti dengan diagnosis pasti dan pengobatan segera untuk penyakit apapun yang terdeteksi.
2.4.3 Pencegahan Tersier  Penyakit Tidak Menular
Upaya pencegahan tersier bagi masyarakat mencakup ketersediaan fasilitas,layanan, dan tenaga medis kedaruratan yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang di dalamnya upaya pencegahan primer dan sekunder sudah tidak ampuh. Contohnya mencakup layanan ambulan rumah sakit, dokter dan dokter bedah, perawat, dan tenaga professional kesehatan yang lain.
            Pencegahan tersier bagi individu kerap membutuhkan perubahan perilaku atau gaya hidup yang signifikan. Contohnya mencakup kepatuhan mengikuti pengobatan yang diresepkan, program olahraga, dan diet. Contoh, seorang pasien serangan jantung dapat mengikuti program pendidikan dan konseling gizi dan di dorong untuk perpartisipasi dalam program olahraga berpegawas sehingga dapat memaksimalkan penggunaan kemampuan yang tersisa. Kegiatan tiu dapat membawa pasien kembali meneruskan pekerjaannya dan mencegah serangan jantung kedua. Untuk tipe tertentu masalah kesehatan tidak menular, misalnya masalah yang melibatkan penyalahgunaan zat, kedatangan yang rutin pada pertemuan kelompok pendukung atau sesi konseling dapat menjadi satu bagian penting dalam program pencegahan tersier.


2.5 Penerapan upaya pencegahan dalam pengendalian penyakit tidak menular: CHD
            Walaupun mengalami kemajuan yang sangat pesat,penyakit jantung coroner(CHD) tetap menjadi pembunuh nomor 1 di amerika. Mengurangi angka kematian akibat CHD merupakan salah satu tujuan khusus healthy people 2010 .banyak faktor yang berperan dalam risiko seserang mengalami penyakit ini. baik masyarakat maupun individu dapat berperan dalam pencegahan CHD.
Aturan Masyarakat
            masyarakat harus menyadari pentingnya pencegahan penyakit cara yang sangat tidak efektif dan paling mahal untuk memberikan pertolongan pada pasien CHD.
            Walaupun perubahan perilaku seseorang memegang prospek terbaik didalam penurunan angka prevalensi penyakit jantung di negara ini, masyarakat dapat memberikan lingkungan yang dapat mendukung perubahan perilaku tersebut. Contoh,masyarakat dapat mendukung pembatasan area merokok dan dapat memberikan pesan yang jelas bagi kaum muda bahwa merokok merusak kesehatan.komunitas juga dapat menyediakan kesempatan yang memadai untuk pelaksanaan skrining kesehatan terhadap faktor faktor resiko seperti hipertensi dan kadar kolesterol serum. Olahraga dapat mengurangi obesitas dan meningkatkan high density lipoprotein (HDL) dalam darah, yang pada giliranya menurungkan resiko serangan jantung.
Aturan Indivisual
            Faktor-faktor risiko untuk CHD sangat banyak. Beberapa faktor risiko tersebut tidak dapat dimodifikasi, sementara faktor risiko yang lain dapat dimodifikasi (dikurangi) untuk meningkatkan kesehatan seseorang. Setiap orang dapat meningkatkan kekebalannya terhadap CHD dengan mengetahui perbedaan antara tipe-tipe faktor risiko dan dengan mengadopsi perilaku yang dapat mencegah atau menunda awitan CHD.
            Faktor risiko taktermodifikasikan untuk CHD antara lain, ras, jenis kelamin, tipe kepribadian,usia, dan laju metabolik basal. Yang juga diwariskan adalan kadar awal kolesterol serum seseorang. Dengan begitu, anak yang orangtuanya memiliki kadar kolesterol serum tinggi termasuk dalam kelompok yang berisiko untuk kadar yang sama tingginya, apapun dietnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar