Rabu, 10 Agustus 2011

perilaku terpuji

 Perilaku terpuji
  1.          Adil
  2.          Rida
  3.          Amal Saleh



1.      Adil
Adil berasal dari kata al-‘adl yang artinya “tidak berat sebelah”, “tidak memihak”, atau “menyamakan yang satu dengan yang lain”.
Adil merupakan bentuk sikap yang menempatkan sesuatu pada tempatnya secara proporsional sebagai perintah Allah SWT dan lebih dekat kepada taqwa.
Seorang pemimpin yang berlaku adil, akan menjadi orang pertama yang masuk surga. Sebaliknya seorang pemimpin yang tidak adil, dia akan dimasukkan pertama kali ke dalam neraka. Oleh karna itu, manusia harus selalu berbuat adil di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dalam tugas kenegaraan.
Firman Allah SWT.dalam Surat an-Nisa’ ayat 135 sebagai berikut

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىأَنفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيّا ً أَوْ فَقِيرا ًفَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلاَ تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ
خَبِيرا ً
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan (Q.S. an-Nisa : 135)





           
Prof.Quraisy Shihab menguraikan tentang makna keadilan dalam bukunya Wawasan Al-Quran hal. 114-116, paling tidak ada empat pengertian adil yang dikemukakan oleh para ulama, yaitu ;
1. Adil dalam arti “sama”
Dalam arti memperlakukan sama terhadap orang-orang, tidak membedakan hak-haknya.
Contohnya keadilan yang dipraktekkan oleh Ali bin Abi Thalib berikut, pernah suatu hari terjadi sengketa diantara Ali bin Abi Thalib dengan seorang Yahudi, yaitu suatu sengketa yang sampai juga ke meja hijau (majlis hukum) dibawah pimpinan Umar bin Khattab guna mendapatkan penyelesaian. Setelah kedua pihak sama-sama datang menghadap Umar, maka berkatalah Umar kepada Ali : “ Ya Abal Hasan, berdirilah berdekatan dengan lawanmu”. Seusai Umar memberikan keputusannya, Umar melihat bahwa diwajah Ali terdapat tanda-tanda kedukaan, maka ujarnya : “ Wahai Ali, mengapa saya lihat anda agak susah ?”. Ali menjawab : “Sebab anda tidak mempersamakan antara saya dan lawan saya, anda memanggil saya dengan sebutan kehormatanku “Abal Hasan “, sedang anda memanggil Yahudi dengan namanya yang biasa”

2. Adil dalam arti “seimbang”
Keseimbangan sangat diperlukan dalam suatu kelompok yang didalamnya terdapat beragam bagian yang bekerja menuju satu tujuan tertentu. Dengan terhimpunnya bagian-bagian itu, kelompok tersebut dapat berjalan atau bertahan sesuai tujuan kehadirannya.

3. Adil dalam arti “Perhatian terhadap hak-hak individu dan memberikan hak-hak itu kepada setiap pemiliknya”.
Pengertian inilah yang didefinisikan dengan “menempatkan sesuatu pada tempatnya” atau “memberi pihak lain haknya melalui jalan yang terdekat”. Lawannya adalah kezaliman dalam arti melanggar hak-hak pihak lain. Pengertian ini melahirkan keadilan sosial.

4. Adil yang dinisbatkan kepada Ilahi.
Adil disini artinya memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk itu”. Keadilan Ilahi merupakan rahmat dan kebaikanNya. Keadilannya mengandung konsekwensi bahwa rahmat Allah swt. tidak tertahan untuk diperoleh, sejauh makhluk itu dapat meraihnya.

2.      Rida
Ridha (رِضَى ) menurut kamus al-Munawwir artinya senang, suka, rela. Ridha merupakan puncak ketenangan jiwa seseorang dalam menghadapi apapun yang terjadi. Dalam kehidupan ini seseorang harus mampu menampilkan sikap ridha minimal dalam empat hal:
a. Ridha terhadap perintah dan larangan Allah
Artinya ridha untuk mentaati Allah dan Rasulnya. Pada hakekatnya seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, dapat diartikan sebagai pernyataan ridha terhadap semua nilai dan syari’ah Islam. 

b. Ridha terhadap taqdir Allah.
Ada dua sikap utama bagi seseorang ketika dia tertimpa sesuatu yang tidak diinginkan yaitu ridha dan sabar. Ridha merupakan keutamaan yang dianjurkan, sedangkan sabar adalah keharusan dan kemestian yang perlu dilakukan oleh seorang muslim.
Perbedaan antara sabar dan ridha adalah sabar merupakan perilaku menahan nafsu dan mengekangnya dari kebencian, sekalipun menyakitkan dan mengharap akan segera berlalunya musibah. Sedangkan ridha adalah kelapangan jiwa dalam menerima taqdir Allah swt. Dan menjadikan ridha sendiri sebagai penawarnya. Sebab didalam hatinya selalu tertanam sangkaan baik (Husnuzan) terhadap sang Khaliq bagi orang yang ridha ujian adalah pembangkit semangat untuk semakin dekat kepada Allah, dan semakin mengasyikkan dirinya untuk bermusyahadah kepada Allah.

c. Ridha terhadap perintah orang tua.
Ridha terhadap perintah orang tua merupakan salah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah swt. karena keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orang tua.
Bahkan Rasulullah bersabda : “Keridhaan Allah tergantung keridhaan orang tua, dan murka Allah tergantung murka orang tua”. Begitulah tingginya nilai ridha orang tua dalam kehidupan kita, sehingga untuk mendapatkan keridhaan dari Allah, mempersyaratkan adanya keridhaan orang tua. Ingatlah kisah Juraij, walaupun beliau ahli ibadah, ia mendapat murka Allah karena ibunya tersinggung ketika ia tidak menghiraukan panggilan ibunya

d. Ridha terhadap peraturan dan undang-undang negara
Mentaati peraturan yang belaku merupakan bagian dari ajaran Islam dan merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah swt. karena dengan demikian akan menjamin keteraturan dan ketertiban sosial.
Termasuk dalam ridha terhadap peraturan dan undang-undang negara adalah ridha terhadap peraturan sekolah, karena dengan sikap demikian, berarti membantu diri sendiri, orang tua, guru dan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian mempersiapkan diri menjadi kader bangsa yang tangguh.

3.      Amal saleh
Amal berasal dari bahasa arab ‘amal yang berarti pekerjaan. Dalam bahasa Indonesia amal berarti perbuatan baik atau buruk. Secara istilah, amal saleh adalah segala perbuatan yang sesuai dengan dalil akal (rasional), Al-Qur’an, dan sunnah Nabi Muhammad saw.yang dapat membawa kemaksiatan.


Jenis – jenis amal saleh
Amal saleh dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi perbuatan dan subjek pelakunya. Dari sisi perbuatan, amal saleh terbagi menjadi dua jenis, yaitu amal jariah dan amal ibadah.
Amal jariah adalah perbuatan kebajikan yang dilakukan secara sukarela dengan mengharapkan rida Allah SWT.dan mendatangkan balasan kebajikan bagi yang melakukannya meskipun ia telah meninggal.
Adapun amal saleh yang termasuk amal ibadah adalah pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dari segi subjek pelakunya, amal saleh dibagi dua yaitu amal batiniah dan amal lahirian.
1. Amal Batiniah
Amal batiniah adalah amala yang dilakukan oleh hati. Beberapa contoh amal batiniah adalah :
a. Beriman
b. Bersabar
c. Berniat
d. Bertawakal
e. Ikhlas
f. Berani
2. Amal Lahiriah
Amal lahiriah adalah amal yang dilakukan oleh anggota badan serta dapat diketahui oleh penglihatan dan pendengaran.
a. Amal lahiriah berupa ucapan
1. Nasihat yang baik
2. Ucapan yang baik
3. Membaca Al- Qur’an
b. Amal lahirriah berupa Perbuatan
1. Mendirikan shalat dan menunaikan zakat
2. Menolong dalam kebaikan
3. Berjual beli

dapun kesimpulan-kesimpulan yang bisa ditarik dari artikel yang berjudul “Mengangkat Kembali Nilai Adil, Rida, dan Amal Saleh dalam Kehidupan Modern”, yakni :
1. Pada beberapa tahun belakang ini, tingkat kriminalitas yang menyangkut pelanggaran Hak Asasi Manusia semakin meningkat.
2. Dengan adanya hal ini, kita harus kembali pada jalan yang benar dengan mengikuti pedoman kita, yakni Al-Quran.
3. Kita harus tersadar untuk mengangkat kembali nilai-nilai perilaku terpuji seperti adil, rida, dan amal saleh.
4. Barang siapa yang melaksanakan dan menggunakan prinsip adil, rida, dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari kelak akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar